Beranda » Freelancing Melalui oDesk

Freelancing Melalui oDesk

oDesk secara singkat adalah online marketplace atau pasar online dimana “penjual tenaga”? bertemu dengan “pembeli tenaga”?. ? Disini aturan jual-beli tenaga diatur dengan sangat baik. ?Paling tidak menurut mamang. ? Jadi kerugian baik di pihak penyedia tenaga / freelancer / independent contractor (provider) maupun pembeli tenaga (buyer) bisa diminimalisir.

Lalu bagaimana sebetulnya cara kerja oDesk itu sendiri?

Seperti halnya situs-situs keanggotaan lainnya, oDesk menyimpan semua data keanggotaan secara cukup lengkap. ?Di sisi provider, oDesk membuat aturan yang cukup ketat dimana provider tidak boleh mengalihkan keanggotaanya, dsb. ?oDesk bahkan membuat ujian pertama yang harus diselesaikan oleh “?calon”? provider yaitu “oDesk readyness test”?. ?Test ini dimaksudkan untuk menguji sejauh mana pemahaman “?calon”? provider mengenai sistem kerja oDesk sendiri. ?Didalamnya ditanyakan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang dDesk provider. ?Selain itu, pemahaman mengenai software khusus “oDesk Team”? juga ditanyakan disini. Tapi jangan takut, semuanya open book “? dan bisa dilakukan sambil kita membuka halaman panduan di window / tab lain.

Software oDesk Team. ?Software ini khusus disediakan oleh oDesk untuk “mencatat”? semua kegiatan provider sewaktu melakukan pekerjaan yang dihitung secara waktu (billable time) ?secara otomatis. ?Pencatatan nya sendiri bisa disesuiakan dengan kebutuhan buyer, apakah hanya sampai jumlah “keystroke”? dan “mouse click”? dan screen capture secara periodik untuk menunjukkan kegiatan provider pada saat itu atau sampai dengan capture webcam untuk memastikan bahwa provider ada di depan komputer pada saat itu (misalnya untuk tugas membaca / mereview yang relatif lebih sedikit aktifitas keyboard / mouse nya). ? Permintaan tingkat detail “work logging”? ini ditentukan oleh buyer pada saat kesepakatan kerja dimulai. ?Setiap buyer juga mempunyai kebijakan work logging yang berbeda-beda, misalnya minimal jam online per minggu, maksimal jam online yang akan dibayar per minggu, dsb.

Oh iya, mungkin sebelumnya perlu diketahui dulu ada dua macam cara “bertransaksi tenaga”? yang bisa dilakukan melalui oDesk. ?Ada yang “time based”? dimana provider dibayar dengan tarif per jam, misalnya US$5 per jam, atau yang “project based”? dimana provider dibayar per pekerjaan yang diselesaikan. ?Jadi, penggunaan dan pemahaman software oDesk Team akan sangat vital dalam kesepakatan kerja yang didasarkan atas jam kerja (timed base). ?Tapi terkadang buyer juga meminta provider project base untuk melakukan logging atas pekerjaannya.

Lalu, pembayarannya sendiri bagaimana mang? ?oDesk setiap minggu akan merekapitulasi banyak pekerjaan yang provider yang telah lakukan dan akan melakukan penagihan kepada buyer yang bersangkutan. ?Masalah cara pembayaran dari buyer nya sendiri mamang kurang mengerti, berhubung belum pernah jadi buyer “? tapi cara kita menerima hasil jerih payah kita sebagai provider sendiri ada beberapa cara yaitu :

  1. Melalui Paypal. ?Kita sebagai provider harus membuat akun paypal dulu kalau belum punya.. ?Cara ini adalah cara yang paling efisien. ?Untuk transfer ke bank di Indonesia tidak dikenakan charge kalau diatas 1.5jt. ?Kalau kurang, charge nya sekitar 16rb an.
  2. Payoneer debit Master Card. ?Kalau belum punya bisa sekalian bikin di oDesk, tapi mamang kurang tahu berapa kena charge nya per transaksi. ?Kayaknya sih 25rb an per sekali gesek di ATM Master.
  3. Wire transfer -> biaya nya mahal! ?Bank = vampir. ?Bisa kena minimal US$5 sekali nerima kiriman.
  4. Direct deposit -> hanya untuk provider di US.
  5. Baru !!! Transfer langsung ke rekening IDR di Indonesia

Nah, sewaktu kita menjadi member oDesk sebagai provider, kita secara otomatis akan mempunyai “pundi uang”? di oDesk. ?Seminggu sekali pundi ini diisi sesuai dengan hasil kerja kita sebagai provider. ?Nah, kalau sudah banyak, kita bisa tarik ke salah satu cara penerimaan uang di atas. ?Misalnya di transfer ke akun paypal kita. ?Kenapa harus banyak dulu? ?Soalnya setiap narik kita dikenakan biaya US$1 oleh oDesk :(

Oh iya, karena itu jaga password oDesk sebaik mungkin. ?Jangan sampai dibobol orang. ?Kebayang hasil kerja begadang cape-cape diambil orang”?.

:mewek2

Selain itu, perlu diperhatikan, oDesk “mengutip”? 10% dari yang dibayarkan oleh buyer. ?Misalnya, dalam perjanjian buyer harus membayar kita sebesar US$5 per jam, maka yang kita terima hanyalah US$ 4.5, dimana US$ 0.5 nya di minta oDesk.

Waaah”? licik dong.

Enggak juga.

oDesk kan sudah “mempertemukan”? kita dengan buyer, lalu menjamin pembayaran kita sebagai provider dan juga menyediakan software yang cukup canggih untuk monitoring sekaligus billing pekerjaan kita. ?Jadi, kalau menurut mamang sih mereka berhak. ?Apalagi membership di oDesk digratiskan, tanpa perlu setor dulu biaya ini itu. ? Kalau di Indonesia yang katanya ada Departemen Tenaga Kerja nya, mau jadi tukang jahit di garment?saja?harus setor dulu uang ke satpam, kalau tidak surat lamarannya dibuang ke tempat sampah.

Jadi”? sudah cukup berminat? ?Ayo cari duit dari luar negeri, jangan cuma ngabisin duit jualan hasil bumi di luar negeri seperti para penggede negeri. ? Enaknya lagi, cari duitnya bisa dari kamar sendiri, gak perlu macet-macetan setiap hari. ?Mau sambil ngasuh si dede? ?Bisa! ?Gak punya ijazah D3, S1, S2, S3? Bisa! ?Yang penting ada skill!

Share:

Mungkin ini juga menarik

12 comments

  1. Oleh karena itu pertama kali mendaftar jasa suatu situs Freelance Market saya akan mengecek bagaimana metode billing dan invoice mereka dan juga metoda pembayaran bagaimana mereka mentransfer dana ke saya sebagai freelancer provider yang mereka pakai. Jadi paypal merupakan pilihan pertama saya..Salah duanya adalah fasilitas-fasilitas yang ditawarkan untuk mendukung kerja saya. Berikut ini paparan beberapa fasilitas dasar yang dapat anda harapkan ada di freelance market contoh kasus …

  2. dedi says:

    mang mau tanya nih…
    gmn cara menentukan besar kecil bidding di odesk ?? sebelumnya aku baru daftar di odesk..
    thanks atas jawabannya mang…

    • Mang Memed says:

      Salam kenal. Maaf baru sempat memoderasi dan membalas. Akhir-akhir ini mamang sangat sibuk dengan kegiatan lain 🙂
      Untuk menentukan besar kecil bidding di oDesk, bagi provider yang baru mulai bisa melihat rata-rata “pasaran” dengan melihat-lihat pekerjaan sejenis.

      Coba untuk bid sedikit di bawah pasaran untuk menarik perhatian buyer, tapi jangan juga terlalu rendah karena akan memberi kesan tidak professional.

      Intinya, sama saja seperti di kehidupan nyata – kalau kita baru mulai berusaha menjual jasa kalau memasang tarif terlalu tinggi / disamakan dengan yang sudah lama dan terkenal / professional mungkin tidak akan ada yang tertarik atas jasa yang kita jual. Tapi kalau kita memasang tarif “sedikit” lebih murah, mudah-mudahan akan menarik perhatian pembeli yang akan menjadi modal untuk portofolio kita ke depan. Tapi kalau kita terus-menerus memberikan harga dibawah pasaran hanya untuk “menjaring” pembeli – selain akan merusak pasar, kita akan menjadi (terlihat) tidak professional dan berkesan asal dapat pekerjaan. Bisa dijamin pekerjaan yang dibayar kecil akan “kurang memotivasi” seseorang untuk bekerja secara sungguh-sungguh.

      Selamat berjuang!

  3. fude says:

    pertama, saya ucapkan termakasih atas infonya tp sy belum puas karena sy baru mendaftar di odesk makanya masih butuh bimbingan dari bang mamad.
    kedua: mau nanya ni bang odeks dengan elence.com apa bedanya…?? thanks atas bantuanya

    • Mang Memed says:

      Terimakasih atas kunjungannya…
      Insya Allah mamang akan terus berusaha untuk berbagi informasi mengenai freelancing ini.

      Mengenai beda oDesk dengan elance.com, mamang belum bisa menjawab karena terus terang mamang belum pernah bergabung dengan elance.com

      Tetap semangat!

    • Mang Memed says:

      Salam kenal…
      Kalau untuk pekerjaan seperti itu mungkin bisa coba cari di bagian “Administrative Support” – disitu ada biasanya banyak pekerjaan data entry atau copy paste. Tapi jangan salah, pekerjaan copy paste juga terkadang memerlukan ketelitian tinggi dan yang penting harus bisa mengikuti guideline dari buyer.

      Selamat berjuang…

  4. raden says:

    klo jd translate bikin fortpolio nya kaya gimana yang mang,,satu lagi yang mang kalo di odesk kita mendingan kerja yang per huor atau fixd priced mang,,makasih yang yang sebelumnya

    • Mang Memed says:

      Untuk translator, mungkin kalau translator Bahasa Inggris & Indonesia bisa coba buat saja blog dengan dua bahasa tersebut. Satu artikel dengan dua bahasa. Yang penting bisa menunjukkan bahwa kita menguasai bahasa yang dijanjikan. Kalau mamang pribadi sih lebih suka yang hourly – soalnya lebih terjamin pembayarannya. Kalau fixed price, terkadang harus check dulu reputasi buyer nya – terkadang apakah karena kelalaian kita sendiri (pekerjaan tidak selesai) atau ada kekurangan sedikit saja – akhirnya kita tidak dibayar sama sekali. Kecuali untuk pekerjaan yang kira-kira memang bisa ‘sekali tepuk beres’ dan tidak ada celah buat si buyer untuk berkelit (alasan kurang ini lah kurang itu lah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *