Sebetulnya jadi freelancer itu bukan cita-cita mamang sedari kecil. ?Dulu mamang kalau enggak jadi insinyur, cita-citanya kepingin jadi penerbang. ?Akhirnya terbang enggak (karena overweight), nginsinyur apalagi, ngisini iya. ?Berhubung kuliah mamang putus setelah satu tahun di TPB (Tahap Persiapan Bersama) dan setahun berikutnya mogok kuliah karena males, akhirnya mamang malang melintang di berbagai profesi mulai dari kurir dokumen sampai operator excavator di tambang batu split di desa Selacau Batujajar. ?Apa kabar orang Batujajar? ?Barageur euy urang desa Selacau teh! ?Sumpah. ?Sejujurnya sih cuma kerja praktek, tapi asli enak kerja di tempat gituan.

Pesan #1 : Jangan males kuliah! ?Nanti jadi kayak mamang.

Nah, kembali ke freelancing. ?Setelah malang melintang di dunia berbagai macam profesi, akhirnya singkat kata mamang menemukan jalur keahlian (secara otodidak) di dunia perkomputeran. ?Dimulai dari melamar kerja sebagai drafter AutoCAD, sampai akhirnya jadi delivery man di sebuah toko komputer yang (pada saat itu) cukup terkemuka. ?Padahal mamang sumpe lo belum fasih nyetir mobil saat itu. ?Langsung disuruh bawa mobil box ngirim barang. ?Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa (yang sampai menewaskan orang lain – nyenggol-nyenggol dikit sih kayaknya iya juga). ?Kebetulan jadi delivery man di toko komputer, mamang sekalian belajar mengenai komputer secara lebih mendalam. ?Akhirnya kedaleman juga, sampai sempat ngurus proyek-proyek yang pada saat itu belum ada yang pernah mencoba seperti BBS (Bulletin Board System – mbah nya dial-up) atau instalasi barang-barang aneh lainnya. ?Singkat kata, mamang nekat tapi sambil mau belajar terus karena penasaran.

Pesan #2 : ?Harus mau belajar karena ingin bisa. ?Jangan cuma karena ingin dipuji bos atau dapet nilai bagus. ?Penasaran itu jangan cuma terhadap lawan jenis, tapi pada ilmu juga. ?Kalau sudah bisa, runut balik apa memang sudah dipahami ilmu nya. ?Halah panjang amat pesannya.

Karena mamang sudah mulai terekspos pada dunia perkomputeran, akhirnya mamang terdampar di salah satu PMA (waktu itu masih PMDN) yang tertarik untuk merekrut mamang karena mamang sering ‘nyervis komputer’ ke sana. ?Akhirnya disana juga mamang banyak belajar mengenai sistem komputer secara mendalam, aplikasi nya pada bisnis, dan yang tidak bisa mamang lupakan sampai saat ini adalah OFFICE POLITICS. ? Ya, gara-gara office politics ini pula mamang akhirnya ‘tersisihkan’ dari perusahaan besar tersebut. ?Tapi tidak apa-apa. ?Mungkin kalau masih berkutat disana mamang tidak akan bisa berkembang lebih jauh – tidak akan mengenal dunia freelancing seperti saat ini.

 

Pesan #3 : Setiap kejadian sebagaimanapun buruk terlihatnya, selalu ada hikmah dibaliknya.

Nah, sudah cukup ah si mamang curhat nya. ?Kapan ngasih tips kenapa jadi freelancer nya atuh!

Ada hubungannya ini teh. ?Setelah mamang tersisihkan dari perusahaan tersebut, karena mamang sudah tidak muda lagi dan ijazah pun hanya SMA, akhirnya setelah mencoba profesi ini itu lagi (bahkan setelah jadi freelancer pemula pun mamang sempat mencoba untuk bekerja lagi) – akhirnya mamang memilih untuk ber istiqomah menjadi seorang freelancer.

Padahal mamang bukan programmer (yang rate nya di oDesk rata-rata bisa $10 per jam), bukan SEO expert (ahli yang bisa memunculkan suatu website pada halaman pertama hasil pencaharian Google) juga, menulis artikel juga mamang masih nubitol abis. ?Tapi yang pasti mamang punya kemauan untuk mencoba. Sangat beruntung mamang cukup bisa berbahasa Inggris (mungkin karena pada saat mamang SMA filem-filem yang saru seru banyak yang berbahasa Inggris. ?Coba kalau pada saat itu sudah musim Bahasa Jepang, mungkin mamang ngerti kimochi.. ike.. ike… aja mah *eh*) dan berkemauan untuk terus belajar. ?Akhirnya rejeki dari freelancing pun mulai dibuka. ?Sedikit demi sedikit.

Beruntung pula melalui oDesk?mamang dipertemukan dengan client-client yang baik.

Sebetulnya mamang memilih jadi freelancer karena hal sebagai berikut ?(akhirnya) :

Kami (mamang dan istri) baru dikaruniai anak-anak yang masih kecil-kecil pada saat itu. ?Anak adalah amanat bagi mamang, dan mamang ingin memenuhi kewajiban lahir batin untuk anak-anak mamang, paling tidak sampai mereka akil balik. ?Pada saat itu kami hanya berdua mengurus anak-anak kami dan mamang berfikir bahwa satu-satunya cara untuk mencari nafkah dari rumah adalah dengan bekerja melalui internet. Selain dari oDesk, mamang juga saat itu sudah bekerja secara online pada salah satu sub kontraktor yang tidak bisa mamang sebut karena berada di bawah NDA (Non Disclosure?Agreement).

Nah, seiring perkembangan waktu anak-anak tidak akan tetap selalu kecil – sekarang mereka sudah cukup besar untuk bisa makan dan minum sendiri. ?Tapi mamang tetap menjadi freelancer karena :

Jalanan macet. ?Mamang lebih suka waktu mamang dihabiskan bersama anak-anak mamang daripada harus membuang waktu, bensin dan tenaga di perjalanan yang macet nya sudah tidak masuk akal lagi. ?Kalau perjalanan ke tempat kerja saja sekali jalan menghabiskan waktu selama 45 menit, berarti dalam sehari sudah 1.5 jam waktu terbuang percuma. ?Padahal bahkan Allah bersumpah demi waktu. ?Mamang selalu merasa berdosa setiap membuang-buang waktu. ?Mungkin ini sekedar justifikasi untuk sifat tidak sabaran mamang saja 🙂 ?Wallahu A’lam.

Freelancing atau bekerja menggunakan komputer dari rumah melalui koneksi internet tidak melulu identik dengan programming, atau membuat website atau hal-hal yang bisa membuat orang awam kebanyakan ‘ngeri’. ?Banyak juga pekerjaan administrasi data, riset online, terjemahan, dan lain-lain. ?Bisa dianalogikan sebagai berikut.

Setiap seseorang atau suatu perusahaan membuat suatu website, kecuali website tersebut hanya adalah sekedar ‘online presence’ dari suatu ‘entity’ (maaf mamang pakai Bahasa Inggris, soalnya kalau pakai Bahasa Indonesia malah jadi agak membingunkan) – maka website tersebut akan membutuhkan banyak sekali content (isi). ?Content tersebut umumnya adalah berupa artikel. ?Artikel bermutu memerlukan banyak sekali kegiatan riset – yang ?juga dilakukan secara online. ?Jadi kegiatan online research ini cukup menyediakan lapangan kerja freelance yang cukup banyak.

Ada pula pekerjaan article spinning, dimana kita diharuskan untuk ‘menulis ulang’ suatu artikel dengan gaya kita sendiri. ?Bisa dari beberapa artikel sumber ataupun dari satu artikel sumber saja.

Ada juga website yang memerlukan data yang diambil dari beberapa sumber data (misalnya wikipedia, IMDB) – dan mereka meminta kita untuk merekonsiliasi data tersebut sebelum menginput pada sistem data mereka.

Semua pekerjaan diatas tidak memerlukan pengetahuan programming dalam bentuk apapun. ?Semua hanya memerlukan keinginan untuk belajar dan kemampuan untuk mengoperasikan komputer dan internet secara dasar. ?Jika anda sudah bisa membaca sampai akhir artikel ini, berarti anda sudah bisa mengoperasikan komputer dan internet.

Satu hal lagi – dalam freelancing, selalu baca secara menyeluruh dan patuhi guideline yang telah diberikan oleh client / buyer. ?Jangan banyak berasumsi karena client biasanya??tidak akan suka dengan itu (walaupun menurut kita adalah inisiatif yang baik) mengingat kebanyakan client besar dengan proyek yang melibatkan banyak freelancer sangat bergantung pada kepatuhan atas guideline demi keberhasilan teamwork mereka. ?Jika ada yang kurang dimengerti atau meragukan, jangan sungkan untuk bertanya dulu pada team leader atau koordinator di atas anda. ?Biasanya proyek-proyek besar juga menyediakan portal untuk knowledge base atau FAQ / TILIL dari proyek yang dikerjakan.

Share:

Mungkin ini juga menarik