Beranda » Belajar dari Juru Parkir

Belajar dari Juru Parkir

Barusan mamang dalam rangka beternak teri (nganter anak istri), karena mau beli-beli sesuatu dulu dan mamang agak males untuk ikut masuk – mamang nongkrong saja deket si kuda merah nan setia.? Sambil nongkrong menikmati hari yang lumayan panas, mamang memperhatikan tiga orang juru parkir disana.? Satu orang juru parkir menangani sepeda motor dan dua lagi menangani parkir mobil.? Untuk yang menangani mobil, mamang bisa memahami fungsi mereka – untuk kondisi jalan yang sempit dan ramai, mungkin bantuan mereka sangat membantu para pengendara mobil untuk memarkirkan kendaraan.? Tapi untuk yang menangani sepeda motor, tampaknya peranan dia cuma seperti tukang palak saja.? Dia cuma ‘bekerja’ menghampiri sepeda motor yang akan berangkat untuk meminta uang parkir (tanpa karcis apapun tentunya).? Bahkan untuk mengarahkan dimana sebaiknya motor parkir pun tampaknya dia tidak begitu peduli.

Dari pemandangan ini mamang mendapatkan pelajaran yang cukup penting – bagaimana manusia dengan ‘pekerjaan’ yang sama bisa berbeda fungsi nya.? Ada yang berfungsi membantu, memberikan manfaat – ada pula yang berfungsi cuma sekedar sebagai mesin ‘pencari nafkah’.? Tidak dipungkiri, ketiga orang juru parkir tersebut pasti harus menafkahi paling tidak diri nya sendiri – dan sangat besar kemungkinan keluarganya juga. Bayangkan jika semua orang mencari nafkah dengan cara si juru parkir motor.? Cuma sebagai tukang palak.? Yang penting pulang bawa setoran.? Tidak peduli apakah dia sudah memberikan manfaat ataupun tidak.? Sepertinya dunia ini akan jadi tempat yang sangat tidak nyaman untuk ditempati karena penuh oleh pemalakan.? Keterpaksaan.

Tapi bayangkan jika jenis si juru parkir mobil yang dipakai sebagai acuan ‘mencari nafkah’.?? Dia sediakan manfaat, Insya Allah kebutuhan dia akan terpenuhi dengan sendirinya.? Konsep mencari nafkah seperti ini lah yang seharusnya dipakai dalam tenaga kerja kita.? Bukan dengan ingin mencari gaji sebesar-besarnya dengan sekolah setinggi-tinggi nya (mungkin lebih tepat – menyetorkan ijazah setinggi-tinggi nya), melainkan dengan mendedikasikan hidup kita pada sesuatu – apakah itu pendidikan dengan menjadi pendidik yang amanah, apakah mendedikasikan hasrat untuk belajar kita dengan menjadi peneliti, dsb.? Dengan dedikasi pada sesuatu tersebut, sepatutnyalah masyarakat dalam hal ini melalui pemerintah atau badan organisasi lainnya menopang kehidupan orang dan keluarga orang tersebut dengan apa yang disebut sebagai kompensasi atau penghasilan.? Tapi tampaknya dalam dunia materialistis seperti sekarang ini susah untuk menegakkan konsep seperti itu,.

Bingung ya?? Sama mamang juga bingung.

Mungkin ini juga menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *