Beranda » Mengalah untuk diri sendiri

Mengalah untuk diri sendiri

Mungkin seharusnya mengalah untuk menang. Tapi di jaman sekarang sepertinya idiom tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Mengalah seperti nya sekarang sudah menjadi hal yang sulit ditemukan dalam masyarakat kita. Semua bermula ketika reformasi 98 mengajarkan bahwa ternyata menang itu begitu menyenangkan. Jadi kalau bisa menang untuk apa mengalah?

Mungkin itulah sinyal terkuat yang tertanam pada jiwa masyarakat kita sekarang.

Aku harus menang!

Kalau harus menang ya berarti gak boleh kalah. Kalah dan mengalah itu hanya untuk para pecundang.

Karakter “mending mati daripada mengalah” inilah yang secara salah kaprah – seperti biasa terbawa pada pola hidup masyarakat banyak. Mulai dari kompetisi penggunaan jalan raya sampai ke pertandingan sepak bola. Bahkan orang berdarah-darah hanya karena berebut waktu melaju di perempatan jalan. Bunuh-bunuhan hanya pada ajang kontes pujian. Apalagi kalau berebut harta atau jabatan – sudah pasti dijamin tidak akan ada yang mau mengalah.

berkelahi
foto dari thegreenblog.net

 

Padahal sebetulnya kalah itu enggak apa-apa kok.

It’s OK. Aku ra popo #basi. Cuih.

Apalagi mengalah yang katanya untuk  menang.

Kalau ngotot ingin menang harus menanggung resiko 50% selamat (hidup) dan 50% mati. Dan dari 50% kemungkinan hidup yang menang itu juga kelanjutan nya gak jelas juga apa akan hidup senang apa enggak, buat apalah ngotot menang.

Siapa tahu yang kalah justru lebih senang hidupnya.

Ngalah dikit juga gak akan sakit.

Mungkin akan terasa menyakitkan pada departemen gengsi pada awalnya, tapi lama-lama toh departemen gak berguna itu juga akan di merger dengan departemen gak jelas lainnya.

Jadi sesuai dengan istilah yang pernah saya dengar juga “Yang waras ngalah” (waktu itu kalau gak salah saya jadi yang gak waras nya), mungkin ada baiknya kita sesekali bertindak waras – mengalah ya gak apa-apa.

Tapi dengan pertumbuhan ketidak-warasan akhir-akhir ini yang cukup eksponensial, apa kita harus mengalah terus juga ya.

Karena itu saya memilih untuk mengalah untuk diri sendiri saja. Untuk menjaga kewarasan diri. Ketenangan jiwa.

Jiwa ku adalah urusanku. Jiwa mu adalah urusan mu.

Ditulis setelah beberapa kali takjub melihat kelakuan ngotot di jalan raya.

Mungkin ini juga menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *