Beranda » Berita dari Desa

Berita dari Desa

Foto credit : instagram.com/jabbarim_

Mamang teh kemarin ngobrol dengan ‘urang lembur’ (orang desa), dia bercerita tentang sawah dan harga gabah. Tentang gimana abah nya menanam padi, beli ‘obat’ (pupuk, insektisida) mahal, terus pas panen dijualnya harga murah ke pengepul / juragan.

“Bukannya pupuk disubsidi?” Tanya mamang.

“Enggak, boro-boro subsidi, malah makin kesini makin mahal harganya.” Jawab si urang lembur.

“Malah sekarang ada hama baru jadi si padi teh mati dalam satu gerombolan, jadi kayak bolong-bolong sawah nya…” (istilah yang disebutnya mamang lupa)

Karena mamang bukan ahli pertanian, mamang cuma manggut-manggut sambil mencoba mengkonfirmasi soal subsidi pupuk itu.

Terus subsidi pertanian yang kemarin sempat diributkan itu berita apa sih sebetulnya?

“Bukannya kemarin ada PT yang berani beli gabah lebih mahal dari harga terendah bulog tea? PT apa sih (asli mamang lupa)..?”

“Enggak kang, kita mah gak bisa jual langsung ke yang mau beli – kita cuma bisa jual ke pengepul aja – ya cara nya rupa-rupa ada yang ngasih ‘panjer’ (DP) dulu, ada yang memang kita ‘dibikin’ gak bisa jual ke yang lain – kan kita juga punya hasil panen tetep harus ada modal buat ngangkut (truk), malah pas sebelum panen juga kita juga perlu modal.” Hmmm… seperti praktek ijon yang dulu mati-matian diperangi oleh Presiden kita dulu yang anak tani ya.

“Lah terus Koperasi… KUD emang udah gak ada?” Tanya mamang. Soalnya setahu mamang kementrian nya mah masih ada. Paling tidak website www.depkop.go.id masih bisa dibuka.

“Udah gak ada kang, udah dari kapan lagi.” Karena yang diajak ngobrol kayaknya usia nya di bawah mamang malah sepertinya dia gak kenal apa itu KUD. Dulu waktu mamang masih SD mah malah sering becandain KUD = Kopeah Unyil Dengdek (Kopyah Unyil Miring posisinya).

“Susah kang sekarang mah hidup di desa teh, makanya pada nekat cari kerja ke kota..” (ini mah dialog fiktif – mamang yang ngarang.)

Inti dari tulisan ini sebetulnya – kita dengan segala teknologi dan kemudahan kok rasanya gak adil banget cuma mengangkat berita politik, kekuasaan, gosip, parawisata, haha-hihi yang notabene semua terkonsentrasikan di kota-kota besar. Kita demikian sibuk nya dengan ‘kemajuan’ kita sampai melupakan saudara-saudara kita di desa. Padahal mereka adalah pejuang yang menyediakan makanan pokok kita sehari-hari.

Bersama ini juga mamang mengajak teman-teman untuk kalau ada kesempatan misalnya pas ngobrol dengan orang desa, di rekam video nya pakai HP terus di upload ke Youtube misalnya. Atau buat yang kebetulan punya blog travel / adventure, mungkin bisa menggali sisi kehidupan orang desa nya – kesulitan apa yang mereka hadapi dan apa sekiranya yang bisa kita perbuat untuk membuat kehidupan di desa mereka bisa lebih baik lagi. Paling tidak hanya itu yang kita bisa lakukan untuk membalas budi baik mereka selama ini.

 

Mungkin ini juga menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *