Beranda » Hari demi hari

Kategori: Hari demi hari

Mengurus Pindah KTP dan KK dari Kabupaten ke Kotamadya Bandung

Kali ini mamang bermaksud untuk berbagi pengalaman mengurus kepindahan dokumen kependudukan yaitu KTP dan Kartu Keluarga dari Kabupaten Bandung ke Kotamadya Bandung.

Ceritanya begini : mamang sekarang bertempat tinggal di Kotamadya Bandung, padahal KTP dan KK mamang masih berstatus tercatat di tempat tinggal terakhir mamang di Kabupaten Bandung. Demi kelancaran administrasi, mamang pun memutuskan untuk ‘memindahkan’ data kependudukan mamang dari alamat lama (Kabupaten Bandung) ke alamat baru yang berada di wilayah Kotamadya Bandung.

Nah, pertama-tama mamang mencari informasi melalui internet dan akhirnya bisa disimpulkan bahwa secara garis besar dalam ‘berpindah’ KTP dan KK bisa dibagi menjadi dua kegiatan yaitu mengurus surat pindah keluar – yaitu menyatakan bahwa kita sudah tidak tinggal di wilayah yang kita tinggalkan, dan kemudian mengurus surat pindah masuk ke wilayah yang akan (atau sedang) kita tinggali – karena biasanya dalam berpindah domisili, orangnya dulu pindah baru surat-surat menyusul belakangan :p

Sebagai tindakan jaga-jaga, secara umum mamang photo copy dulu KTP dan Kartu Keluarga yang sekarang berlaku karena dalam proses pindah ini mamang akan diharuskan untuk menyerahkan KTP dan Kartu Keluarga tersebut, entah di tempat asal atau tujuan.  Selain itu, informasi status E-KTP yang sekarang berlaku apakah sudah ‘direkam’ data nya atau belum harus diketahui karena hal ini konon akan sangat membantu dalam proses selanjutnya.

Mengurus surat pengantar pindah keluar

Untuk mengurus surat pindah keluar pertama-tama kita perlu membuat :

  1. Surat pengantar pindah keluar dari RT / RW yang akan kita tinggalkan. Periksa kembali dengan teliti jika data sudah benar. Setelah itu, jangan lupa photo copy dulu surat pengantar dari RT / RW tersebut dan langsung buat.
  2. Surat pengantar pindah keluar dari tingkat kelurahan / desa. Setelah surat pengantar pindah dari kelurahan / desa tersebut selesai dibuat dan ditandatangani oleh yang berwenang. Periksa kembali dengan teliti jika data sudah benar. Jangan lupa buat photo copy nya lagi.
  3. Setelah itu, buat surat pengantar pindah keluar di tingkat kecamatan. Biasanya tergantung dari tingkat pelayanan dari kecamatan yang bersangkutan – diperlukan beberapa hari kerja. Tapi mungkin di beberapa kecamatan bisa juga selesai secara instan. Setelah surat pengantar pindah keluar dari kecamatan tersebut selesai dibuat, periksa kembali dengan teliti jika data sudah benar. Buat juga photocopy nya.
  4. Selanjutnya adalah membuat surat pengantar pindah keluar dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (DISDUKCAPIL) tingkat kabupaten atau kota. Dalam hal ini mamang membuat nya di kantor DISDUKCAPIL Kabupaten Bandung di komplek Kabupaten Bandung di Soreang. Proses pembuatannya kalau untuk kasus mamang membutuhkan waktu 7 hari kerja. Setelah surat tersebut selesai, periksa kembali dengan teliti jika data sudah benar dan buat juga photo copy nya. Pada saat proses ini juga, KK asli mamang ditarik oleh kantor DISDUKCAPIL Kabupaten Bandung.

Kita telah selesai membuat surat pengantar pindah keluar dari wilayah yang akan kita tinggalkan. Selanjutnya kita akan membuat surat pengantar pindah masuk ke wilayah yang akan kita masuki / terakhir sedang kita tempati.

IMG_20160211_074141

Mengurus surat pindah masuk

Setelah selesai mengurus surat keterangan pindah keluar dari Disdukcapil Kabupaten Bandung, mamang pertama-tama langsung mengunjungi kantor Disdukcapil Kotamadya Bandung yang berada di Jalan Ambon No.1 (dekat Taman Maluku). Seperti hal nya kantor pelayanan umum lainnya, kantor ini cukup dipadati pengunjung walaupun waktu itu mamang datang cukup pagi – Jam 7.15 (sekalian habis ngojek junior 1 ke sekolah).

IMG_20160210_075232

Anjayy… ternyata kesadaran masyarakat akan pentingnya dokumen kependudukan cukup tinggi. Hahay.

Tapi jangan keder duluan, nyantai aja. Samperin aja dulu si akang satpam yang sigap sedia selalu menunggu mesin printer antrian dan nyatakan cinta eh maksudnya nyatakan maksud kedatangan kita -dan waktu itu mamang disuruh langsung ke loket K kalau gak salah mah. Terus mamang dengan lugu nya nunggu dipanggil – eh ternyata maksud si akang satpam teh langsung aja ke loket soalnya cuma perlu untuk meminta formulir Surat Keterangan Jaminan Bertempat Tinggal yang harus diisi, dilengkapi dan ditandatangani dan dicap RT / RW sampai ke Kecamatan.

Nah, jadi bagi yang mau mengikuti langkah mamang – pertama kali mau mengurus surat pindah masuk, mending ke saung konsultasi dan informasi Diskdukcapil dulu yang berada di depan untuk minta formulir nya. Nah setelah itu, formulir diisi dengan benar dan dilengkapi dengan persyaratan nya (fotokopi KTP dan KK tempat asal, surat pengantar / pindah keluar dan pasfoto 4×6) lalu di cap dan tandatangan RT/RW, Kelurahan, dan Kecamatan setempat.

Jangan lupa periksa nomor register dari setiap yang men cap dan tanda tangan harus ada. Oh ya, sebetulnya kalau perlu berkonsultasi bisa coba bertanya di kelurahan atau kecamatan yang bersangkutan. Mereka bisa membantu, kalau pengalaman mamang di kantor kecamatan kita bisa meminta informasi dengan cukup leluasa.

Setelah selesai mengisi formulir, maka kembali lagi ke kantor Disdukcapil Kotamadya Bandung untuk menyetorkan formulir tersebut lengkap dengan persyaratan nya. Jangan lupa semua berkas dimasukkan ke dalam map warna hijau. Mamang juga pada saat itu menyetorkan E-KTP mamang ke petugas Disdukcapil Kotamadya Bandung. Lalu mamang diberi resi untuk kembali dalam 7 hari kerja.

Setelah 7 hari kerja mamang pun kembali ke kantor Disdukcapil Kotamadya Bandung untuk mengambil Surat Keterangan Datang WNI.

IMG_20160211_074227

Nah, surat ini adalah dasar untuk membuat Kartu Keluarga baru yang diproses di Kelurahan setempat (mungkin di beberapa tempat lain bisa jadi harus di Kecamatan). Untuk membuat KTP dan KK baru, kita harus mengulang proses dari RT/RW sampai ke Kecamatan.

Tempat sampahnya dimana?

Mungkin sudah hal yang tidak aneh kalau mamang atau ibu mamang yang sudah tua terlihat memunguti atau menyapu sampah yang berserakan di ‘halaman’ rumah kami. Sebetulnya bukan halaman rumah sih tapi lebih merupakan jalan menuju halaman rumah. Setiap hari pasti banyak sampah jajanan anak sekolah berserakan di sana.

 

IMG_20160123_114123

Pernah sekali mamang menegur anak-anak yang sedang bermain disekitar situ :

“Jang, kalau main disini jangan buang sampah sembarangan ya!” Ujar mamang.

Salah satu anak yang kelihatan cukup cerdas langsung menjawab : “Baik pak, kalau begitu saya harus buang dimana?”.

Agak kesal mamang menjawab : “Ya buang sampah di tempat sampah dong!”.

Lalu si anak tersebut menjawab lagi “Tempat sampah nya dimana pak?”.

Mamang pun terdiam gak bisa jawab karena memang disekitar sekolah tersebut mamang lihat tidak ada tempat sampah yang cukup memadai untuk ukuran sekolah tersebut. Sedangkan cukup banyak tukang dagang jajanan yang berjualan disitu.

“Ya sudahlah, cari saja tempat sampah terdekat…” jawab mamang sambil leuleus (lemes).

Sangat kontradiktif memang, dengan poster yang baru-baru ini terpasang di sisi lain sekolah tersebut

IMG_20160123_115627

Mamang pernah sih sudah agak lama ‘mengeluh’ mengenai soal ini lewat twitter atau facebook – tapi tidak pernah ditanggapi. Mudah-mudahan dengan coretan mamang disini bisa ada tindak lanjut dari yang berwenang untuk menyediakan tempat sampah yang dikelola dengan baik (bukan cuma wadah nya saja) untuk halaman depan sekolah ini.

Kalau mamang mah da apa atuh, boro-boro buat nyediain tong sampah – buat sehari-hari aja kadang ada kadang enggak.

Mamang tidak akan menyebutkan kelurahan atau nama sekolah nya di sini, kalau ada yang merasa bisa membantu mengatasi masalah ini – mungkin bisa menghubungi mamang melalui japri.

MASUK SURGA ITU NGGAK PENTING

Dapet share temen dari FB. Shahih enggak nya kurang tahu juga, cuma catatan buat mamang sendiri aja. Kalau bisa bermanfaat buat yang lain ya Alhamdulillah.

[Think Different Ala Cak Nun]

INGAT : Tulisan ini khusus untuk para GENTHO (begundal), mereka yang sedang berproses mencari kebenaran Tuhan.
Yang mengaku Alim atau ahli ibadah atau Ustad minggir dulu, nanti dulu, jangan Komen.

Jangan berharap ada dalil-dalil dari Syekh Zulkifli Jabal Syueb Sanusi (embuh sopo kui? – Gak tau siapa Itu ?). Monggo.

BEBERAPA tahun belakangan marak ‘SEDEKAH AJAIB’ yang sering digiatkan oleh itu, Si Ustad ‘nganu’. Cak Nun hanya mengingatkan, “SEDEKAH itu dalam rangka BERSYUKUR, berbagi rejeki & kebahagiaan, BUKAN dalam rangka MENCARI REJEKI. Ingat itu!
Kalau Anda mengharapkan kembalian berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah, tapi dagang! Paham?”

Beliau tidak mengecam juga, lha wong taraf imannya masih segitu kok.
Kalau menyedekahkan uang, sepeda motor, mobil, rumah, helikopter atau apa pun, ya wis, kasihkan saja, titik! Setelah itu Jangan Berharap Apa-apa. Walau kita yakin akan dibalas dengan berlipat ganda, tapi ketidaktepatan dalam niat menjadikan sedekah bukan lagi sedekah, melainkan sekedar jual beli. Sedekahnya sudah bagus, tapi janji Tuhan jangan pernah dijanjikan oleh manusia, nggak boleh!

Banyak orang beribadah yang masih salah niat gara-gara manut omongan si motivator sedekah. Naik haji/umroh biar dagangannya lebih laris. Sholat Duha biar diterima jadi PNS, biar duit banyak, biar jadi milyarder biar dihormati orang. Ibadah itu dalam rangka bersyukur, titik! Menangislah pada Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam sholatnya menangis, tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya sendiri, tapi kalau menangisi itu untuk selain dirinya : orangtua, anak, istri, kakek, nenek, saudara, sahabat dan seterusnya.

Ada seorang pedagang miskin yang dagangannya nggak laku, dia sabar dan ikhlas : “kalau memang saya pantasnya miskin, dagangan saya nggak laku, saya ikhlas, manut ae, yang penting Tuhan ridho sama saya.” Malah keikhlasan seperti ini yang langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak disangka-sangka datangnya.

Tapi kalau kita yang ditimpa sial, dagangan nggak laku, biasanya langsung mewek : “Ya Tuhan kenapa saya kok mlarat, miskin, dagangan gak laku, gak bisa beli montor, gak bisa beli mobil, aku salah apa sih..!???” Waaahh…, malaikat langsung gregeten, nampar mukamu : “Oalaaaaah.., cengeng byanget kamu ya…!!!”

Iman seseorang memang tidak bisa distandarisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda.
Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire makmumnya di belakang nggerundel, gak ihklas.

Cak Nun mengingatkan, usahakan berbuat baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau kita sholat. Lebih ekstrim lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita sholat (walau itu nggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya, titik! Itu adalah sebuah bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Sudah suwung, sudah nggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan ridho, nggak marah pd kita.

Motong rambut atau kuku nggak harus nunggu hari Jum’at. Lha wong paling pingin ML aja kok ya harus nunggu malam Jum’at, Ni gimana sih? Itulah kita, tarafnya masih kemaruk (serakah) pahala. Nggak ada pahala, nggak ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rosul. Pikir sendiri!

“Surga itu nggak penting..!” kata Cak Nun suatu kali. Tuhan memberi bias yang bernama surga dan neraka. Tapi kebanyakan manusia hanya kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena dulu sewaktu di dunia cuma mencari surga, nggak pernah mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita kost dimana???

“Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka. Fokuskan dirimu hanya pada Tuhan. Karena sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan. Dzat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam semesta…” kata Cak Nun

Kejutan dari jakartanotebook.com

Sebetulnya nggak terkejut-terkejut amat sih, tapi lumayan gak nyangka aja. Gak nyangka kalau pesan barang cuma senilai 10rb an juga tetap dilayani dengan baik dan cepat.

image

Cerita awalnya sih mamang perlu pelindung hape tipis yang kalau di tempat aksesoris sih biasa disebut ultra thin. Sudah nemu sih di Bandung ada yang jual 20rb an, tapi gak sempet aja mau ke toko nya. Akhirnya daripada gak jadi aja dan hape takut keburu jatuh tanpa pelindung – soalnya hape mamang casing belakang nya licin banget, mamang coba pesan saja di jakartanotebook.com.

Ini bukan pertama kali sih mamang pesan barang ke situ – sudah beberapa kali belanja router, SSD drive, modem, dsb. Rata-rata memang pakai JNE reguler perlu waktu 3 hari dari tanggal order sampai barang diterima di Bandung.  Berhubung kali ini barang yang diorder cuma seharga 9rb sekian – malah mahalan ongkir nya (total-total sekitar 20rb an juga), mamang gak ngarep kalau barangnya diproses seperti biasa. Ya mungkin agak-agak lama an dikit gapapa deh kata mamang dalem hati. Lalu mamang checkout dan langsung bayar via transfer BCA malam tgl 21. Asli kenapa mamang belanja cuma 20rb eun karena saldo BCA nya memang tinggal segitu an… Hahah. Parah nih mamang malah curcol.
Eh besok nya gak disangka ada email dari jaknot kalau barang lagi disiapkan. Ah mungkin sistem aja pikir mamang. Terus gak lama siangan nya email lagi katanya barang pesanan sudah dikirim + nomer resi nya. Wahwah. Mulai seneng. Tapi tetep keeping the expectation low, mamang pikir JNE reguler. Ah paling lusa nya. Gak mungkin di prioritas. Gak taunya hari ini tgl 23 siang ada kurir JNE dateng nganter pesanan… Alhamdulillah tau aja nih menghibur mamang yang lagi galau nunggu yang janji transfer BCA mau bayar honor dari bulan kapan mulur wae… Ehehe. Curcol deui wae.

image

Dan isinya tak lain dan tak bukan cuma begini:

image

Dipikir2 pikir si mamang jail amat ya ngerjain orang buat proses pesanan, packing terus ngirim beginian. Tapi ya da gimana atuh maunya mah sekalian dengan ngorder Chuwi tablet Vi8 atau Xiaomi Yii tapi da kumaha atuh mamang cuma lagi punya 20rb :p

Akhirnya sekarang hape mamang sudah tidak licin lagi tapi masih tetap ringan & enak dipegang dan dibabawa nya daripada waktu masih pakai flip case yang malah bikin redmi note mamang jadi tebal & berat.

image

Yah memang ada beberapa bagian yang longgar (sebelah kiri atas di foto kelihatan agak membleh ) karena si case nya memang tipis & mungkin pernah kegencet tapi wajar lah buat harga segitu mah.

Sekali lagi Alhamdulillah… Salut pada Jakartanotebook.com yang udah mau bersusah payah cuma untuk ngurusin orderan 10rb doang (belanja di warung aja sekarang kayaknya lebih dari segitu). Sukses terus jaknot!

Darmoya

Rasanya pernah dengar mengenai darmoya alias  “sampai modar ora kaya” ini adalah warung makan soto yang cukup terkenal atau apa gitu.

Tapi sekarang mamang bukan akan menulis tentang warung soto kok, tapi fenomena sampai modar ora kaya itu.

Jaman sekarang segalanya tampaknya harus pakai uang. Mau makan harus ada uang. Mau pakai baju harus ada uang. Mau sekolah harus pakai uang dan selanjutnya. Kalau diteruskan nanti tulisan nya tambah tidak menarik. Cukup tiga contoh saja. Ya cukup kan ya?

Nah

Karena harus pakai uang, berarti manusia cenderung akan berusaha untuk mempunyai uang sebanyak-banyak nya demi kemudahan hidup yang bersangkutan. Akhirnya semua orang tentu ingin menjadi kaya.

Ingin menjadi kaya alias ingin punya banyak uang.  Sehingga muncul lah cita-cita ingin menjadi polisi supaya bisa jadi polisi kaya. Jadi pengacara supaya banyak uang. Atau ingin jadi dokter supaya jadi dokter kaya. Dan selanjutnya. Seolah-olah menjadi orang kaya ini sudah menjadi standar baku tujuan hidup dari banyak orang.

Lalu bagaimana dengan orang yang  gagal menjadi orang kaya? Apakah hidupnya telah gagal karena meleset dari tujuan? Gagal mencapai tujuan hidup?

Disitulah darmoya seolah olah menjadi jawaban angin segar bagi para kaum kere. Kaum gak punya duit. Biarlah sampai modar tidak kaya pun kami akan tetap (berusaha) bahagia. Kami akan buat konsep kebahagiaan kami sendiri karena bahagia karena kaya itu terlalu mainstream saudaraku.

Jadi darmoya itu ketika saya sadar bahwa menjadi kaya itu bukanlah tujuan hidup.