Beranda » Hari demi hari

Kategori: Hari demi hari

SKTM

Sudah beberapa waktu ini soal SKTM gaduh sekali. Ada SKTM bodong, NEM, PPDB, dan banyak mahluk aneh lainnya.

Padahal sebetulnya untuk menentukan diterima tidak nya seorang calon siswa cukup pakai ranking prestasi akademik saja. Sudah jangan dimasukkan parameter lain, jangan dicampur-campur dengan SKTM, jatah anak guru lah dsb.

Kasus yang sekarang terjadi ini seperti suatu pengkhianatan proses  (seleksi akademik) yang sudah berjalan sepanjang masa pendidikan sebelumnya. Dimana anak didik telah merencanakan kelanjutan pendidikan nya dan tiba-tiba beledug bom SKTM dan jalur lainnya meledak dengan dahsyatnya menghapuskan mimpi dan rencana banyak anak didik.

Kalau memang mau membantu orang yang TIDAK MAMPU SECARA FINANSIAL ya itu harusnya tetap berdasar pada proses seleksi akademis, bukan berupa DISPENSASI. Bisa melalui jalur beasiswa atau program lainnya. Yang utama, seleksi akademis adalah harga mati dan tidak boleh diutak-atik lagi.

Sekarang jangankan harga mati, dalam proses seleksi akademis pun masih bisa dimanipulasi. Apalagi dengan menambah celah kebijakan lain yang hanya akan menambah kesempatan untuk penyelewengan.

Bermaksud baik pada orang yang tidak baik hanya akan berakhir menjadi bumerang bagi si orang baik. Untuk kehidupan 1 banding 1 mungkin tidak apa-apa, biar hanya Allah yang mengganjar nya. Tapi untuk 1 banding banyak alias regulasi masyarakat maka ini bisa jadi bencana.

Dan ternyata masyarakat kita masih belum bisa dikategorikan orang baik. Masih terlalu banyak orang tidak baik nya.

Ulekan Pinjaman

Tetangga mamang hampir setiap hari pinjam ‘ulekan’ alias coet. Kalau bahasa Jawa nya mungkin cobek. Entah buat apa, mamang dan si bibi aja gak setiap hari pakai coet itu.

cobek

Mamang sih gak ada masalah, cuma terkadang waktu (timing) nya yang agak mengganggu. Ada saatnya bertamu jam 6.15 pagi (iya pas lagi kita riweuh nyiapin anak-anak berangkat sekolah) cuma untuk pinjam ‘ulekan’.

Ah mungkin dia juga mau masak nasi goreng. Lah terus kalau kita mau masak nasi goreng juga gimana? Kebetulan mamang kalau masak nasi goreng gak pakai coet – cukup diiris-iris saja bawang nya.

Terus siangan dikit coet nya dikembalikan. Agak siang menuju sore dipinjam lagi. Dan seringkali yang disuruh pinjam itu anak-anaknya – yang sejujurnya agak kurang menyenangkan tabiatnya.

Terus mamang berpikir, mungkin ini juga salah satu cara mereka (orang tua) mendidik anak-anak nya untuk ‘tidak malu’ mengganggu orang dalam keadaan apa pun. Membentuk anak-anak mereka jadi manusia yang siap ‘merebut’ apa yang mereka perlukan tanpa peduli kondisi dan situasi.

Memang dalam hal ini mamang dan anak-anak punya masalah kemaluan yang agak terlalu besar, terkadang untuk pinjam obeng saja malah jadi beli sendiri. Padahal pakai obeng nya mungkin gak sampai seminggu sekali.

Mungkin juga mereka menunggu kami lelah, jengah – lalu kami bilang “Ya sudah ulekan nya kamu simpan saja.” Lalu kami terpaksa beli lagi untuk keperluan kami sendiri. (Hal ini tidak akan sampai terjadi. Sekali lagi – tidak. Coet itu hadiah pernikahan mamang dan bibi)

Entahlah.

Yang pasti – mamang sudah bertambah dosa nih berburuk sangka, berprasangka terlalu jauh. Jangan-jangan nanti terus dihubung-hubungkan dengan teori konspirasi freemasonry atau iluminati.

Padahal mereka memang cuma agak kurang punya malu.

Eh, tapi jangan salah loh. Temen mamang ada yang kejadian rumah (orang tua) nya dikontrak oleh semacam praktisi gitu deh – terus sekonyong-konyong tiba-tiba rumah tersebut berpindah kepemilikan. Mana rumah di pinggir jalan besar / daerah strategis lagi.

Ajaib memang.

Tapi itu semua katanya. Konon.

Mungkin semua ini dimulai dari ‘pinjam ulekan’.

Mengalah untuk diri sendiri

Mungkin seharusnya mengalah untuk menang. Tapi di jaman sekarang sepertinya idiom tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Mengalah seperti nya sekarang sudah menjadi hal yang sulit ditemukan dalam masyarakat kita. Semua bermula ketika reformasi 98 mengajarkan bahwa ternyata menang itu begitu menyenangkan. Jadi kalau bisa menang untuk apa mengalah?

Mungkin itulah sinyal terkuat yang tertanam pada jiwa masyarakat kita sekarang.

Aku harus menang!

Kalau harus menang ya berarti gak boleh kalah. Kalah dan mengalah itu hanya untuk para pecundang.

Karakter “mending mati daripada mengalah” inilah yang secara salah kaprah – seperti biasa terbawa pada pola hidup masyarakat banyak. Mulai dari kompetisi penggunaan jalan raya sampai ke pertandingan sepak bola. Bahkan orang berdarah-darah hanya karena berebut waktu melaju di perempatan jalan. Bunuh-bunuhan hanya pada ajang kontes pujian. Apalagi kalau berebut harta atau jabatan – sudah pasti dijamin tidak akan ada yang mau mengalah.

berkelahi
foto dari thegreenblog.net

 

Padahal sebetulnya kalah itu enggak apa-apa kok.

It’s OK. Aku ra popo #basi. Cuih.

Apalagi mengalah yang katanya untuk  menang.

Kalau ngotot ingin menang harus menanggung resiko 50% selamat (hidup) dan 50% mati. Dan dari 50% kemungkinan hidup yang menang itu juga kelanjutan nya gak jelas juga apa akan hidup senang apa enggak, buat apalah ngotot menang.

Siapa tahu yang kalah justru lebih senang hidupnya.

Ngalah dikit juga gak akan sakit.

Mungkin akan terasa menyakitkan pada departemen gengsi pada awalnya, tapi lama-lama toh departemen gak berguna itu juga akan di merger dengan departemen gak jelas lainnya.

Jadi sesuai dengan istilah yang pernah saya dengar juga “Yang waras ngalah” (waktu itu kalau gak salah saya jadi yang gak waras nya), mungkin ada baiknya kita sesekali bertindak waras – mengalah ya gak apa-apa.

Tapi dengan pertumbuhan ketidak-warasan akhir-akhir ini yang cukup eksponensial, apa kita harus mengalah terus juga ya.

Karena itu saya memilih untuk mengalah untuk diri sendiri saja. Untuk menjaga kewarasan diri. Ketenangan jiwa.

Jiwa ku adalah urusanku. Jiwa mu adalah urusan mu.

Ditulis setelah beberapa kali takjub melihat kelakuan ngotot di jalan raya.

Layang-layang putus

Si Dede sepulang ngaji nemu layangan di halaman rumah kosong… lalu dia mainkan seadanya.

layangan

Tidak lama, anak tetangga yang memperhatikan dari balkon atas rumahnya menghardik – “Hei, itu layanganku!” Si dede menjawab “Bukan, ini aku temukan di halaman rumah kosong – kalau memang punyamu kenapa tidak dari tadi kamu ambil sendiri?”.

Entah kenapa, mamang agak kurang suka dengan konsep ‘moro layangan’ (Bahasa Sunda dari berburu layangan) yang sudah hampir bisa dipastikan menjadi kegiatan populer seiring dengan dimulainya musim layangan. Kegiatan ini menurut mamang agak mendidik anak untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan. 

Sudah tidak aneh kalau anak bermain layangan di jalan sehingga mengganggu pemakai jalan umum, benang nya terkadang mengganggu kabel listrik dan telepon – dan yang paling memprihatinkan anak-anak berlarian tanpa memperdulikan keselamatan diri dan sekitarnya hanya untuk mengejar layang-layang putus. Terkadang memanjat pagar rumah orang lain atau pohon di halaman orang lain tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Bahkan tidak jarang ditemukan anak-anak yang berkelahi hanya dikarenakan mempertahankan hak ‘klaim’ nya atas sebuah layang-layang putus.

Sepertinya kita sudah bisa membayangkan apa jadinya jika karakter ‘moro layangan’ ini dibiarkan tumbuh dan bercokol pada diri anak-anak kita – mungkin tidak perlu dibayangkan, cukup lihat acara berita dan infotainment di televisi 🙂

Apakah kita akan membiarkan anak-anak kita menjadi layang-layang putus sepanjang hidupnya?

Selamat Hari Blogger Nasional

Bukan cuma blogger yang logo nya B oranye itu yah, tapi semua pelaku blog di Indonesia.

Selamat deh,

Gak tau mau ngasih apa, jadi ya bikin posting ini aja.

Oh iya, hari blogger nasional ini dimulai ketika Menteri Komunikasi dan Informatika RI pada saat itu, Muhammad Nuh, pada 27 Oktober 2007 membuka secara resmi Pesta Blogger 2007.  Jadi tahun ini sudah perayaan ke-tujuh ya mestinya, Kalau anak mah sudah harus masuk Sekolah Dasar.

Ok deh, selamat…