Beranda » Hari demi hari

Kategori: Hari demi hari

SKTM

Sudah beberapa waktu ini soal SKTM gaduh sekali. Ada SKTM bodong, NEM, PPDB, dan banyak mahluk aneh lainnya.

Padahal sebetulnya untuk menentukan diterima tidak nya seorang calon siswa cukup pakai ranking prestasi akademik saja. Sudah jangan dimasukkan parameter lain, jangan dicampur-campur dengan SKTM, jatah anak guru lah dsb.

Kasus yang sekarang terjadi ini seperti suatu pengkhianatan proses  (seleksi akademik) yang sudah berjalan sepanjang masa pendidikan sebelumnya. Dimana anak didik telah merencanakan kelanjutan pendidikan nya dan tiba-tiba beledug bom SKTM dan jalur lainnya meledak dengan dahsyatnya menghapuskan mimpi dan rencana banyak anak didik.

Kalau memang mau membantu orang yang TIDAK MAMPU SECARA FINANSIAL ya itu harusnya tetap berdasar pada proses seleksi akademis, bukan berupa DISPENSASI. Bisa melalui jalur beasiswa atau program lainnya. Yang utama, seleksi akademis adalah harga mati dan tidak boleh diutak-atik lagi.

Sekarang jangankan harga mati, dalam proses seleksi akademis pun masih bisa dimanipulasi. Apalagi dengan menambah celah kebijakan lain yang hanya akan menambah kesempatan untuk penyelewengan.

Bermaksud baik pada orang yang tidak baik hanya akan berakhir menjadi bumerang bagi si orang baik. Untuk kehidupan 1 banding 1 mungkin tidak apa-apa, biar hanya Allah yang mengganjar nya. Tapi untuk 1 banding banyak alias regulasi masyarakat maka ini bisa jadi bencana.

Dan ternyata masyarakat kita masih belum bisa dikategorikan orang baik. Masih terlalu banyak orang tidak baik nya.

Mengalah untuk diri sendiri

Mungkin seharusnya mengalah untuk menang. Tapi di jaman sekarang sepertinya idiom tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Mengalah seperti nya sekarang sudah menjadi hal yang sulit ditemukan dalam masyarakat kita. Semua bermula ketika reformasi 98 mengajarkan bahwa ternyata menang itu begitu menyenangkan. Jadi kalau bisa menang untuk apa mengalah?

Mungkin itulah sinyal terkuat yang tertanam pada jiwa masyarakat kita sekarang.

Aku harus menang!

Kalau harus menang ya berarti gak boleh kalah. Kalah dan mengalah itu hanya untuk para pecundang.

Karakter “mending mati daripada mengalah” inilah yang secara salah kaprah – seperti biasa terbawa pada pola hidup masyarakat banyak. Mulai dari kompetisi penggunaan jalan raya sampai ke pertandingan sepak bola. Bahkan orang berdarah-darah hanya karena berebut waktu melaju di perempatan jalan. Bunuh-bunuhan hanya pada ajang kontes pujian. Apalagi kalau berebut harta atau jabatan – sudah pasti dijamin tidak akan ada yang mau mengalah.

berkelahi
foto dari thegreenblog.net

 

Padahal sebetulnya kalah itu enggak apa-apa kok.

It’s OK. Aku ra popo #basi. Cuih.

Apalagi mengalah yang katanya untuk  menang.

Kalau ngotot ingin menang harus menanggung resiko 50% selamat (hidup) dan 50% mati. Dan dari 50% kemungkinan hidup yang menang itu juga kelanjutan nya gak jelas juga apa akan hidup senang apa enggak, buat apalah ngotot menang.

Siapa tahu yang kalah justru lebih senang hidupnya.

Ngalah dikit juga gak akan sakit.

Mungkin akan terasa menyakitkan pada departemen gengsi pada awalnya, tapi lama-lama toh departemen gak berguna itu juga akan di merger dengan departemen gak jelas lainnya.

Jadi sesuai dengan istilah yang pernah saya dengar juga “Yang waras ngalah” (waktu itu kalau gak salah saya jadi yang gak waras nya), mungkin ada baiknya kita sesekali bertindak waras – mengalah ya gak apa-apa.

Tapi dengan pertumbuhan ketidak-warasan akhir-akhir ini yang cukup eksponensial, apa kita harus mengalah terus juga ya.

Karena itu saya memilih untuk mengalah untuk diri sendiri saja. Untuk menjaga kewarasan diri. Ketenangan jiwa.

Jiwa ku adalah urusanku. Jiwa mu adalah urusan mu.

Ditulis setelah beberapa kali takjub melihat kelakuan ngotot di jalan raya.

Selamat Hari Blogger Nasional

Bukan cuma blogger yang logo nya B oranye itu yah, tapi semua pelaku blog di Indonesia.

Selamat deh,

Gak tau mau ngasih apa, jadi ya bikin posting ini aja.

Oh iya, hari blogger nasional ini dimulai ketika Menteri Komunikasi dan Informatika RI pada saat itu, Muhammad Nuh, pada 27 Oktober 2007 membuka secara resmi Pesta Blogger 2007.  Jadi tahun ini sudah perayaan ke-tujuh ya mestinya, Kalau anak mah sudah harus masuk Sekolah Dasar.

Ok deh, selamat…

Apa itu ‘BAE’

Setelah kemarin dunia maya diramaikan dengan ‘ice bucket challenge’, kali ini internet kembali melahirkan istilah baru yaitu ‘BAE’.

Tadinya mamang pikir BAE adalah singkatan dari nama artis atau orang terkenal, ternyata setelah coba googling sedikit – BAE itu cuma ungkapan untuk ‘baby’. Mungkin ini sedikit meniru istilah ‘BEB’ yang cukup populer di kalangan muda-mudi kita. “Beb, kita makan diluar ya beb….” mungkin seperti itu lah.

Update : Dan ternyatah, BAE ini adalah “Before Anything Else” alias didepan segalanya elseu…

Kembali ke ‘BAE’ – kalau dalam Bahasa Sunda bae itu punya arti ‘saja’. Misalnya : “Keun bae” = “Biar saja”. Atau “Eta bae” yang artinya “Itu saja”. Mungkin ada juga yang menyebut “bae” menjadi “wae”, karena istilah “bae” sepertinya lebih banyak digunakan di daerah Jawa Barat perbatasan (pengaruh Jawa Tengah?).

Jadi, sekarang sudah gak penasaran lagi kan kalau ‘BAE’ itu apa? Kalau masih penasaran, silakan cari lagi di google 😉

Semoga bermanfaat.

Kebahagiaan kita terletak pada kebahagiaan orang lain

Pada suatu acara seminar yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta. Tiba-tiba sang Motivator berhenti berkata-kata & mulai memberikan balon kepada masing2 peserta. Dan kepada mereka masing2 diminta untuk menulis namanya di balon2 tersebut dgn menggunakan spidol.

Kemudian semua balon dikumpulkan & dimasukkan ke dalam ruangan lain. Sekarang semua peserta disuruh masuk ke ruangan itu & diminta untuk menemukan balon yg telah tertulis nama mereka, & diberi waktu hanya 5 menit Semua orang panik mencari nama mereka, bertabrakan satu sama lain, mendorong dan berebut dengan orang lain disekitarnya sehingga terjadi kekacauan.

Waktu 5 menit sudah usai, tidak ada seorangpun yang bisa menemukan balon mereka sendiri. Lalu di waktu berikutnya
Sang Motivator meminta kepada Peserta untuk secara acak mengambil sembarang balon & memberikannya kepada orang yang namanya tertulis di atasnya. Dalam beberapa menit semua orang punya balon dengan nama mereka sendiri.

Akhirnya sang Motivator berkata :
“Kejadian yg baru terjadi ini mirip dan sering terjadi dalam kehidupan kita sehari- hari, Semua orang sibuk mencari
kebahagiaan untuk diri sendiri, mirip dengan mencari balon mereka sendiri, dan banyak yg gagal. Mereka baru berhasil
mendapatkannya ketika mereka memberikan kebahagiaan kepada orang lain, mirip Dengan memberikan balon tadi
kepada pemiliknya”

Kebahagiaan kita terletak pada kebahagiaan orang lain. Beri kebahagiaan kepada orang lain, maka anda akan mendapatkan kebahagiaan anda sendiri… umum nya banyak yg mencari kebahagiaan masing2 bahkan demi mendapat kebahagiaan diri sendiri,ia tak segan  mengorbankan yg lain.

Penutup
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan wejangan

“Barangsiapa yang membantu seorang mu’min terlepas dari kesusahan didunia, niscaya Allah akan membantunya terlepas dari kesusahan dunia dan akhirat” (HR.Muslim)

Dari broadcast BBM seorang kenalan.