Beranda » Motivasi

Tag: Motivasi

Evaluasi Diri

Belajar Mengevaluasi Diri dari Seorang Bocah

Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko obat. Ia mengambil peti minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa.
Ditekannya tujuh digit angka. Si pemilik toko mengamati-amati tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.
Bocah: Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?
Ibu (di ujung telepon sebelah sana): Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya.
Bocah: Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu.
Ibu: Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu.
Bocah (dengan sedikit memaksa): Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di semua rumah dilingkungan ibu.
Ibu: Tidak, terima kasih.
Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.
Pemilik Toko: Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan.
Bocah: Tidak. Makasih.
Pemilik Toko: Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan.
Bocah: Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja untuk Ibu tadi!….

Sudahkah Kita Selalu Mengevaluasi hasil kerja kita?

Dari broadcast BBM seorang teman.

Si Bodoh yang berkarya dan Si Pintar yang diam saja

Mungkin bodoh adalah kata yang terlalu kasar. Tapi maksud mamang tentang bodoh disini adalah ‘kalah pintar’ atau memang kurang beruntung untuk mendapatkan pengakuan atas kecerdasannya.

Sedangkan berkarya disini didefinisikan sebagai menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.
Selain itu, tulisan ini sebetul ya adalah motivasi bagi diri sendiri agar semangat untuk berkarya tidak pernah surut.

Beberapa kali mamang menemui keadaan yang menimpa diri mamang sendiri maupun beberapa kenalan mamang yang tidak jadi atau tidak mau berkarya karena takut dianggap bodoh dengan karya nya. Mungkin karena kita dikondisikan oleh pola pendidikan untuk selalu bersikap kritis. Mengkritisi dengan selalu mencari kesalahan dari (karya) orang lain daripada melihat hal baik dari karya tersebut dan berusaha berkolaborasi untuk menyempurnakannya.? Seharusnya kritis, bukan sinis.

Hal ini terbukti dengan banyak menjamurnya profesi komentator baik olahraga, politik dan lain-lain di negeri ini.

Paling tidak suatu karya bodoh jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Mamang bercermin pada hasil sampingan dari tugas research yang pernah mamang lakukan, ternyata negara tetangga kita bisa lebih maju dalam pembinaan crowdsourcing berskala nasional walaupun dengan desain website dan database yang sangat sederhana dan cenderung ‘salah’ atau ‘belum benar’.? Tapi mereka melakukan itu! Sedangkan kita tidak, mungkin karena masih mencari cara yang paling bagus, desain tampilan yang mantap, ataupun desain database dan UI yang sophisticated.?

Akhirnya kita ketinggalan setahun, dua tahun, entah berapa tahun lagi.

Jadi, kangan takut salah lagi ya mang! Just do it!! Anything else will follow.