Beranda » Sampah

Tag: Sampah

Untuk Bandung dari Mamang

Biaya pemisahan dan pencucian plastik untuk bahan baku daur ulang yang bisa ditekan dengan melakukannya di hulu (Rumah Tangga).  Untuk lebih mudah memungkinkan hal ini, maka yang perlu diberi stimulus adalah pimpinan pelaksana rumah tangga yaitu ibu rumah tangga.

Mekanisme dari pemisahan sampah dari hulu adalah dengan memisahkan sampah plastik dengan organik / sampah dapur sehingga sampah plastik yang disimpan untuk kemudian ‘dibuang’ berada dalam keadaan bersih.

Untuk sampah dapur sendiri mungkin bisa diberlakukan mekanisme pengumpulan sampah untuk kemudian diolah biodigester dengan hasil gas metan yang dimanfaatkan untuk memasak seperti yang sudah berjalan di kelurahan Cibangkong Bandung. Sampah pasar berupa sayuran dan bahan organik lainnya yang berasal dari pasar Cibangkong / Warta, setiap hari dikumpulkan dan di’umpankan’ ke biodigester yang dikelola oleh My Darling (Masyarakat Sadar Lingkungan) Cibangkong http://bandunggreenandclean.wordpress.com/2011/03/09/biodigester-warga-cibangkong/

3-instalasi-biogas-cibangkong

Untuk pengelolaan sampah non organik nya sendiri, mungkin sebetulnya tidak jauh berbeda dengan bank sampah yang sudah dikelola oleh My Darling tersebut (http://jabar.tribunnews.com/2013/03/06/bank-sampah-my-darling-bisa-hidupi-warga) – tapi dibuat dalam format jaringan kota sehingga outlet-outlet penerimaan ‘tabungan sampah plastik’ bisa disebar di lokasi-lokasi strategis sehingga lebih memudahkan warga kota untuk menabung sampah plastiknya.

Lalu bagaimana cara memotivasi warga untuk menabungkan sampah plastiknya?

Setiap setoran sampah plastik yang memenuhi kriteria akan ditukarkan dengan poin.  Poin ini disimpan dalam mekanisme keanggotaan yang dikaitkan dengan nomor KTP, Kartu Pelajar, atau identitas lainnya (idealnya KTP sudah cukup). Mungkin dibuatkan member ID Card “Bandung Clean Project” jadi setiap warga akan menyetor sampah, cukup perlihatkan kartu untuk di scan dan setorkan sampah plastik nya. Bisa dibangun sistem IT online sederhana untuk keanggotaan ini sehingga warga bisa memeriksa status poin sekaligus ‘menyombongkan’ berapa banyak dia telah membantu Bandung untuk tetap bersih di media sosial mereka.  Hal ini diharapkan bisa memberikan viral effect agar memotivasi warga lainnya. Ehko ngelantur, ok kembali ke sampah plastik.

Poin yang terkumpulkan bisa ditukarkan dengan misalnya : pulsa prabayar (bisa berupa CSR dari operator-operator yang beroperasi di Bandung), diskon di merchant yang mendukung program, atau mungkin bisa diadakan undian diantara member untuk bentuk hadiah yang lebih besar (misalnya dibayarkan iuran BPJS nya… hehehe… ngarep si mamang eta mah).

Lalu pendanaan untuk program ini dari mana?

Nih mamang kasih duitnya. Dalam format JPG.
Nih mamang kasih duitnya. Dalam format JPG aja tapi ya.

CSR (hayoh we CSR terus), misalnya pabrik mie instan, kopi instan, sabun cuci, dsb – bersedia membeli ulang bungkus yang disetorkan apakah untuk di daur ulang, dibuat kerajinan atau sekedar dimusnahkan (perlu ditindaklanjuti dengan kemungkinan penggunaan kemasan plastik yang mungkin didaur ulang / two way package – produsen juga harus ikut berpartisipasi dong). Mamang pikir kemasan bekas ini seharusnya bisa dibuat jadi plastic brick – atau plastic gravel, minimal bisa buat ‘nyaeur’ jalan yang berlubang.

Kalau botol / gelas PET dan kantong kresek dalam kondisi bersih sudah dipastikan ada penadah nya (pabrik daur ulang plastik – untuk didaurulang menjadi bijih plastik yang malah bisa diekspor balik ke China), dan masih banyak diversifikasi produk yang bisa dikembangkan (pemikirannya dibalik dari produksi ke recycle). Kalau feeling mamang mah ini bisa lebih baik daripada PLTSa….

Cuma, nanti kira-kira dimusuhin pemulung gak ya… biarin ah demi Bandung tercinta. Kan pemulung juga bisa jadi member nantinya. Peace bray!

Referensi :

http://www.fastcoexist.com/3034720/in-beijing-you-can-pay-for-train-rides-with-plastic-bottles

Pengelolaan Sampah Terpadu

Latar belakang

Pengelolaan sampah sudah menjadi masalah yang belum terpecahkan selama ini. Memang ada usaha dari pemerintah setempat untuk mengatasi masalah sampah ini, tapi hanya untuk memindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini hanya akan menunda masalah yang lebih besar lagi seperti musibah longsor yang pernah terjadi pada TPA Leuwi Gajah Cimahi yang menewaskan lebih dari 140 jiwa pada Februari 2005 silam. Sejak terjadi nya musibah ini, pemerintah setempat berpindah-pindah tempat ‘penumpukan’ sampah akhir alias TPA. Padahal produksi sampah Kota Bandung pada tahun 2010 diperkirakan 1.000 ton atau setara dengan 800 meter kubik per hari. Bayangkan berapa banyak sampah yang akan tertumpuk jika tidak diolah.

Selain itu, pembinaan masyarakat untuk lebih sadar mengenai pentingnya pengelolaan sampah seperti tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Tidak ada sosialisasi atau usaha untuk memisahkan sampah dapur dan sampah yang bisa di daur ulang. Hal ini berakhir pada tercampurnya sampah yang akan lebih menyulitkan lagi usaha untuk mengolah sampah.

Pengumpulan sampah

Seperti yang telah dimaklumi, kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah di Indonesia sangatlah rendah. Usaha pemerintah baik setempat maupun nasional untuk membina masyarakat juga seolah tidak pernah terdengar gaung nya.

Tanpa maksud sedikitpun melanggar konsep kesetaraan gender, pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga di Indonesia merupakan domain dari ibu rumah tangga – atau paling tidak para pembantu rumah tangga. Oleh karena itu, pendekatan terbaik untuk melakukan pembinaan adalah melalui para kaum ibu. Demi proses pengolahan sampah lebih lanjut, peranan para pengelola rumah tangga alias ibu rumah tangga dan para asisten nya adalah sangat penting.

Yang perlu diperhatikan oleh para pengelola rumah tangga adalah :

Memisahkan sampah dengan klasifikasi :

  1. Sampah dapur atau sampah basah yang terdiri dari sampah organik seperti sisa makanan yang bisa busuk dalam waktu singkat.
  2. Sampah organik lainnya yang tidak mudah busuk seperti kertas, dus kemasan, daun kering, ranting, dsb.
  3. Sampah non organik plastik seperti kantong kresek, kantong plastik lainnya, botol dan gelas plastik, dsb.
  4. Sampah non organik non plastik seperti kaleng, botol beling, dsb.

Paling tidak, ada pemisahan antara sampah basah dapur dengan sampah lainnya.

Untuk memberikan motifasi tambahan bagi para pengelola rumah tangga, bisa dimulai dengan program misalnya :

Menukarkan 5 kg kantong kresek dengan satu bungkus mie instan. Dengan demikian, ibu rumah tangga akan merasa ‘sayang’ untuk membuang plastik kresek bekas. Demikian pula dengan jenis-jenis sampah yang bisa di daur ulang lainnya sesuai dengan nilai pasar yang berlaku.

Penyimpanan dan Transportasi

Seringkali masalah pengelolaan sampah mendapatkan resistansi dari masyarakat sekitar berkenaan dengan transportasi dari sampat tersebut. Apakah karena sampah basah yang menyebabkan bau tak sedap, dianggap mencemari lingkungan dsb. Oleh karena itu, dengan diklasifikasikannya sampat sejak dari awal pengumpulan, maka transportasi sampah bisa disesuaikan dengan sifat dari sampah dan potensi gangguan yang bisa diakibatkannya. Misalnya menggunakan mobil semi-tanki untuk mengangkut sampah basah, rancangan tempat penampungan sampah basah sementara yang bisa memisahkan air dan dilengkapi dengan sumur resapan untuk membuang air sampah sehingga mengurangi tingkat gangguan, dsb.

Pengolahan

Untuk pengolahan sampah dapur atau sampah basah bisa dilakukan dengan menggunakan reaktor sampah skala rumah tangga atau skala RT/RW. Pengelolaan sampah basah setempat bisa mengurangi masalah yang mungkin timbul dalam transportasi sampah basah tersebut. Selain itu, pengelolaan sampah setempat bisa membuka lapangan kerja bagi penduduk setempat.

Reaktor sampah skala rumah tangga atau RT/RW merupakan suatu sarana untuk menguraikan sampah dapur menjadi biogas dengan sisa berupa lumpur yang bisa dimanfaatkan untuk kompos atau pupuk organik. Biogas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga atau keperluan lainnya.

Untuk skala yang lebih besar, misalnya skala kota “? sampah basah organik (yang biasa didapat dari pasar-pasar tradisional, dsb) dimanfaatkan untuk reaktor biogas dengan skala lebih besar. Biogas hasil dari reaktor ini bisa digunakan untuk pembangkit listrik yang listriknya sendiri bisa digunakan untuk operasional dari pabrik pengolahan sampah tersebut.

Selain menjadi solusi bagi pengelolaan sampah, pabrik pengelolaan sampah ini juga bisa membuka lapangan kerja baru.

Gambar dari berita-iptek.blogspot.com

[box]

Lebih lanjut mengenai reaktor sampah ini bisa dilihat disini?atau mungkin para ahli lokal bisa mengembangkan yang lebih mudah dibuat dan diterapkan di Indonesia.

[/box]

Mengenai pendanaan, baik untuk pabrik pengelolaan sampah maupun pengelolaan sampah setempat mungkin bisa memanfaatkan CSR dari perusahaan-perusahaan besar. Sehingga pengalokasian dana CSR akan jauh lebih bermanfaat dan bergulir.